Sumarsih Cerita Seorang Pejuang Kemerdekaan yang Pernah Merasakan Bulan Madu Dalam Perang

- Pewarta

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 14:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMEDANG – Api kemerdekaan menyala di mana-mana, di tiang besi, di tiang kayu, di gafura, di menara, di segala arah mata angin. Termasuk di makam tua dalam himpitan pesawahan dan bekunya udara pegunungan.

Makam tua tempat pembaringan abadi seorang wanita yang tersisa tidak terkena tembusan peluru. Sekitar enam puluh tahunan setelah negeri ini merdeka, ia meninggal dengan ratusan piagam perjuangan yang terpajang di dinding rumah biliknya.

Sumarsih, nama yang akrab dikenang masyarakat Dusun Genteng Kecamatan Sukasari. Ia janda yang tidak terpikirkan untuk protes menerima upah perjuangan yang hanya cukup untuk membeli sabun cuci. Ia sosok yang hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat pejabat negara berbuat korupsi merugikan negara.

Ia pernah bercerita, bahwa bulan madu dirinya dengan sang kekasih berjalan dalam suasana gerilya, ” Cinta membara dalam dada bersatu dalam cinta perjuangan untuk memerdekakan tanah air tercinta, ” demikian ucapannya.

Ia dan suaminya siap menerima bila saja cinta mereka harus terputus karena cabikan peluru. Malam tanpa bintang ia arungi dalam canda cinta dan perjuangan, ia terus memberi ketidaktentraman kepada para penjajah untuk meyakinkan ‘ Indonesia Itu Masih Ada’.

Siapa bilang, katanya, bulan madu dalam perang itu tidak indah. Justru, tatkala cinta membara dalam dada akan terasa begitu mendalam tatkala hati masing-masing berbayang asa tentang kibaran bendera kemerdekaan Indonesia, ” Justru, cinta kemerdekaan lebih tinggi daripada cinta birahi kita, ” tuturnya..

Kini, Sumarsih telah tiada.jasadnya akan senantiasa terkenang terutama bagi masyarakat Dusun Sukasari. Ia bukti pejuang yang dalam sisa hidupnya bisa menikmati upah halal dari pemerintah murni karena perjuangannya. Kini, ia mungkin tersenyum dari keabadian, melihat banyak mengaku pejuang padahal mereka hanya hidup di jaman perang saja.

( Tatang Tarmedi ) ***

Berita Terkait

Pilkades Buahdua 2026: Pendaftaran Belum Dibuka, Figur Bakal Calon Sudah Ramai Dibicarakan
Camat Tanjungsari Hadiri Tradisi Ruat Jagat Tolak Bala di Ponpes At-Taufiqiah Kadakajaya
Lewat Tema Unik “MBG”, Pelepasan Siswa SMPN 4 Jatinangor Kental Nuansa Kasundaan
Putra Padjajaran Enterprise  Hadir Lagi di Tanjungsari, Hiburan  Rakyat Sebulan Penuh
Praktisi Hukum Dr. H. Ecek Karyana, S.Kep. Ners M.H. Angkat Bicara Soroti Efisiensi Titik Dapur Program MBG
Kesederhanaan yang Membekas: Derai Air Mata dan Untaian Doa Warnai “Paturay Tineung” SMP Negeri 9 Sumedang
Suasana Penuh Kekeluargaan Mewarnai Pelepasan Siswa Kelas IX SMPN 1 Sumedang
Akselerasi Kawasan Rebana, Pemkab Sumedang Ajukan Pembangunan SPAM Ujung Jaya ke Kementerian PUPR

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 15:43 WIB

Pilkades Buahdua 2026: Pendaftaran Belum Dibuka, Figur Bakal Calon Sudah Ramai Dibicarakan

Minggu, 21 Juni 2026 - 14:15 WIB

Camat Tanjungsari Hadiri Tradisi Ruat Jagat Tolak Bala di Ponpes At-Taufiqiah Kadakajaya

Minggu, 21 Juni 2026 - 08:46 WIB

Lewat Tema Unik “MBG”, Pelepasan Siswa SMPN 4 Jatinangor Kental Nuansa Kasundaan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 21:08 WIB

Putra Padjajaran Enterprise  Hadir Lagi di Tanjungsari, Hiburan  Rakyat Sebulan Penuh

Jumat, 19 Juni 2026 - 08:04 WIB

Praktisi Hukum Dr. H. Ecek Karyana, S.Kep. Ners M.H. Angkat Bicara Soroti Efisiensi Titik Dapur Program MBG

Berita Terbaru