SUMEDANG – Kota Beludru salah satu julukan untuk Kota Sumedang, karena masih banyak ditemukan lahan menghijau laksana hamparan beludru.
Beludru itu sendiri sejenis kain tenunan berbulu yang benangnya sama rata padat memberikan rasa lembut tersendiri.
Di perkotaan mungil ini dikenal salah satu hasil alam yang mungkin tidak asing lagi, yakni Ubi Cilembu. Mendapat banyak julukan, diantaranya ” Si Madu “.
Dikatakan ” Si Madu”, karena rasa Ubi Cilembu lain dari ubi lainnya, apalagi bila dioven, rasanya benar-benar manis serasa madu.
Saking manisnya Ubi Cilembu, mengundang kepenasaranan para ahli budidaya pertanian untuk meneliti. Termasuk ada pihak dihubung-hubungkan dengan cerita-cerita para sesepuh.
Menurut Drs. Hadie Guna, MM. MBA, Ketua Asosiasi Agrobisnis Ubi Cilembu (Asaguci), ubi dari tanaman merambat ini telah memiliki Sertifikat Indikasi Geografis (IG) pada tahun 2013 dari Kementerian Hukum.
Berdasar IG tadi, kata Hadi, Ubi Cilembu telah menjadi hak lebel para petani di 4 kecamatan di sekitar Cilembu. Yaitu, Pamulihan, Tanjungsari, Rancakalong dan Kecamatan Sukasari.
Luas areal tanaman Ubi Cilembu di 4 kecamatan itu sebagaimana yang didaptarkan ke Kemehumkam berkisar pada 462,03.hektar. luasan itu dalam kelolaan sekitar 581 petani.
Masih menurut Hadi, termasuk jenis Ubi Cilembu itu, varietas ubi yang ditentukan secara komunal, yakni meliputi varietas Nirkum, Eno dan Rancing.
Baca Juga:
Manis Ubi Cilembu Akibat
Ucapan Sang Prabu ?
Dibalik fakta-fakta ilmiah tentang muasal manisnya Ubi Cilembu, beredar pula kepercayaan bahwa semua itu lahir dari ucapan Sang Prabu Kerajaan Sumedang Larang.
Beredar cerita rakyat, ketika Sumedang masih menjadi kerajaan, salah seorang Raja Sumedang mengunjungi wilayah Cilembu.
Ketika Raja berkunjung, masyarakat setempat mengirim berbagai makanan untuk dipersembahkan kepada raja, termasuk salah seorang menyodorkan sepiring rebusan ubi.
Baca Juga:
Shanghai Electric Tampilkan Integrasi Energi dan Industri Berbasiskan AI di Hannover Messe 2026
Lebih dari 5.000 Merek Bahas Tren Global di Ajang Shenzhen Gift Fair 2026 yang Digelar RX Huabo
Sebenarnya, warga tadi ragu untuk menyuguhkan ubi kepada Raja, karena ubinya kurang manis dan strukturnya “bageugeug” ( Sunda: artinya membata ).
Tapi semua keheranan, ketika Raja memakan ubi tersebut, dia berucap, ” Enak dan manis sekali ubi ini, ” katanya sembari melahapnya beberapa biji.
Dari sejak itulah, kata para sesepuh di Cilembu, ubi keluaran Cilembu meniadi enak dan manis, karena petuah dari Sang Prabu yang terkenal ampuh ucapannya.
Pernah Dibudidayakan.
di Negeri Sakura
Tentang manisnya Ubi Cilembu, pernah seorang petani dan penggerak Ubi Cilembu, Taryana, mencoba membudidayakannya di Negeri Sakura Jepang.
Taryana mencoba menanam Ubi Cilembu di bangunan kaca dengan suasana kelembaban, suhu dan lainnya dimiripkan dengan keadaan di habitat asalnya Cilembu.
Baca Juga:
Ruijie Networks Gelar 2026 SBG APAC Channel Partner Summit di Chongqing; Luncurkan Merek SME Cybrey
Ternyata, kata Taryana, hasil ubinya tidak semanis di tempat aslinya. Meskipun lingkungannya direkayasa sesuai dengan lingkungan aslinya.
” Makanya, hingga kini, berbagai penelitian belum bisa memastikan kenapa Ubi Cilembu rasanya beda dibanding ubi-ubi lainnya, ” kata Taryana.
Ubi Ukuran Kecil Diharapkan
Bisa Disukai Pasar Korea
Ketika umbi ukuran besar dianggap menjadi kebutuhan pasar bagi kebanyakan para petani Ubi Cilembu, Taryana justru sebaliknya umbi ukuran kecil ia kemas untuk kebutuhan ekspor.
Taryana sengaja memanen umbi ketika ukuran ubi masih sebesar ibu jari kaki orang dewasa, ” Mulut orang korea kan kecil- kecil, jadi mereka tidak akan kesulitan untuk memakannya ( ubi ovenan, Red ), ” katanya.
Resfon orang Jepang dan Korea terhadap Ubi Cilembu, masih kata Taryana, cukup tinggi. Bahkan, Ubi Cilembu segelintir dijadikan bisnis dengan lebel nama Jepang. ( Tatang Tarmedi ) ***














