CIMAHI – Sebagian publik di media sosial sempat dihebohkan dengan kasus keracunan massal yang dialami puluhan siswa SD dan SMP di Kota Cimahi, Jawa Barat.
Sebelumnya diketahui, peristiwa itu terjadi usai para siswa diduga menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) yang sudah tidak layak konsumsi.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Cimahi, Nana Suyatna membenarkan adanya insiden keracunan di sejumlah SD-SMP di wilayah Cimahi, pada Rabu, 25 Februari 2026 lalu.
“Benar ada dugaan kerancunan MBG, kami terus monitor,” kata Nana sebagaimana dilansir dari Instagram @infocimahi.co, pada Jumat, 6 Maret 2026.
“Total korban ada 53 (siswa), Masuk RS Cibabat 15, Mitra Kasih 2, RS Dustira 1,” sambungnya.
Diketahui, menu MBG itu sempat dibagikan oleh pengelola dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangmekar 02 yang kini operasionalnya sudah dihentikan sementara.
Lantas, apa sebenarnya menu MBG yang diduga sudah tidak layak dikonsumsi siswa hingga menyebabkan keracunan massal di sejumlah sekolah Cimahi? Berikut ulasannya.
Nasi Onigiri yang Sudah Menguning
Dalam postingan yang sama, terkuak menu MBG berupa nasi onigiri yang diduga sudah tidak layak dikonsumsi.
Baca Juga:
Diaspora Tionghua Dunia Gelar Ritual Bersama Menghormati Kaisar Kuning Xuanyuan di Henan
Thunes Luncurkan Pembayaran di Waktu Nyata ke Selandia Baru
Zihan Syaira Harumkan Nama Ujungjaya Lewat Prestasi Renang O2SN 2026 Bersiap Unjuk Gigi di Sumedang
Hal tersebut disampaikan salah satu orang tua murid mengatakan bahwa MBG yang diterima pada saat itu terasa asam dan sudah menguning.
“Ada nasi onigiri yang anak saya dapet dari menu MBG rasanya asem dan nasi sudah berubah warna kuning,” beber orang tua murid.
“Beberapa teman anak saya muntah-muntah setelah makan onigiri dan dibawa ke klinik atau RS Cibabat,” imbuhnya.
Setelah viralnya dugaan menu MBG yang sudah kedaluwarsa, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi pun kini angkat suara.
Baca Juga:
HUT Sumedang ke-448: BAZNAS Gandeng Ojol Sumedang, 300 Driver Terima Oli Gratis dari Bupati
Musim Mas Resmikan Smart Class di UINSU, Dukung Pembelajaran Digital dan Generasi Unggul 2045
Sampel Makanan Dikirim ke Labkes Jabar
Secara terpisah, Kepala Dinkes Kota Cimahi, Mulyati menuturkan pihaknya telah melakukan pemeriksaan sampel makanan yang diduga memicu insiden keracunan makanan massal pada akhir Februari 2026 lalu.
Mulyati memastikan, sampel makanan tersebut telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat (Labkes Jabar).
“Dinkes Kota Cimahi mendatangi SPPG untuk mengambil sampel makanan untuk pemeriksaan di laboratorium di Labkes Jabar,” tegasnya dalam pernyataan resmi Pemkot Cimahi, pada Kamis, 5 Maret 2026.
Mulyati menyatakan, sampel makanan yang diperiksa terdiri dari nasi onigiri isi ayam, telur rebus, apel, kurma, dan susu UHT.
“Hal itu sesuai SOP dari Badan Gizi Nasional, dimana setiap SPPG harus menyimpan sampel makanan yang dibagikan,” terangnya.
Baca Juga:
Shanghai Electric Catat Kinerja Positif pada 2025, Nilai Pesanan Baru Capai Rekor Tertinggi
Mouser Electronics Bahas Peran Kecerdasan Buatan dalam Mengubah Teknologi dan Pengalaman Sehari-hari
“Sehingga makanan yang diduga memicu keracunan yang kita ambil dan periksa,” imbuh Mulyati.
Hingga kini, pihak Dinkes Kota Cimahi belum dapat memastikan penyebab keracunan massal penerima manfaat MBG tersebut.
“Soal penyebab pasti makanan yang memicu keracunan masih harus menunggu hasil uji laboratorium,” jelas Mulyati. ****













