OPINI | Oleh Tatang Tarmedi
Memasuki tahun ajaran baru, semangat membara terpancar dari wajah-wajah siswa baru tingkat SMP dan SMA. Mereka mengenakan seragam baru, menapaki lingkungan baru, dan siap merajut masa depan.
Namun, bagi sebagian anak, keceriaan itu kerap sirna dalam sekejap ketika pihak sekolah menggunakan cara usang yang mencederai mental mereka: menagih tunggakan biaya administrasi langsung kepada siswa di depan kelas.
Perkara perlengkapan wajib seperti atribut sekolah, kaos olahraga, seragam batik, seragam muslim, bet, topi, ikat pinggang, hingga kaos kaki sering kali menjadi batu sandungan keuangan bagi sebagian orang tua.
Ketika kewajiban ini belum terpenuhi, tak jarang pihak manajemen sekolah mengambil jalan pintas dengan “mengingatkan” sang anak.
Ini adalah sebuah alarm keras bagi dunia pendidikan kita. Tindakan menagih tunggakan kepada siswa adalah kekeliruan fatal yang harus segera dihentikan.
Table of Contents
ToggleBeban Psikologis dan Ruang Sensitif Remaja
Anak-anak usia SMP dan SMA berada pada fase perkembangan remaja yang sangat krusial. Pada masa ini, penerimaan sosial dari teman sebaya adalah segalanya.
Ketika seorang siswa dipanggil ke depan kelas, atau namanya disebut karena belum melunasi biaya seragam, yang terjadi bukan sekadar penyampaian informasi, melainkan pembunuhan karakter secara perlahan.
Baca Juga:
Kemhan Resmi Hentikan Latsarmil bagi Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia
Hari Bhayangkara ke-80: Pemkab Sumedang Tegaskan Sinergi dengan Polri dalam Melayani Masyarakat
Catatan Penting: Urusan biaya adalah wilayah mutlak orang dewasa (orang tua dan sekolah). Melibatkan anak dalam urusan ini sama saja dengan memindahkan beban finansial menjadi beban kejiwaan yang berat bagi mereka.
Dampaknya pun bisa berbeda berdasarkan psikologis gender:
-
Siswa Perempuan: Secara umum memiliki tingkat sensitivitas yang lebih tinggi terkait rasa malu dan kecemasan sosial. Sekali mereka dipermalukan di depan umum karena masalah ekonomi keluarga, dampaknya bisa memicu trauma mendalam, menarik diri dari pergaulan, hingga enggan untuk masuk sekolah lagi.
-
Siswa Laki-laki: Meskipun sebagian dinilai lebih “kebal” atau cuek, bukan berarti mereka tidak terluka. Rasa minder yang dipendam berpotensi berubah menjadi perilaku defensif, pemberontakan, atau penurunan prestasi akademik.
Tagihlah Orang Tuanya, Bukan Anaknya
Sekolah adalah institusi pendidikan, bukan lembaga penagih utang (debt collector). Jika ada kewajiban administrasi yang belum diselesaikan, pihak sekolah wajib berkomunikasi langsung dengan orang tua atau wali murid.
Berikut adalah langkah profesional yang seharusnya diambil oleh pihak sekolah:
| Langkah Salah (Stop!) | Langkah Profesional (Lakukan) |
|---|---|
| Menitipkan surat tagihan terbuka atau menegur siswa di kelas. | Mengirimkan surat resmi tertutup atau menghubungi orang tua via telepon/pesan pribadi. |
| Mengumumkan nama-nama siswa yang belum bayar atribut. | Mengundang orang tua secara kekeluargaan ke ruang administrasi untuk mencari solusi. |
| Menahan fasilitas belajar siswa sebagai sanksi tunggakan. | Memberikan keringanan atau skema cicilan tanpa melibatkan psikologis anak. |
Kesimpulan: Biarkan Anak Fokus Belajar
Tugas utama seorang siswa baru di sekolah adalah belajar, beradaptasi, dan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. Jangan nodai lembaran baru mereka dengan rasa bersalah atas kondisi ekonomi orang tua yang di luar kendali mereka.
Mari kembalikan fungsi sekolah sebagai tempat yang aman dan nyaman secara fisik maupun psikologis. Untuk urusan rupiah, bicaralah antar-orang dewasa. Biarkan anak-anak kita lepas dari beban kejiwaan dan melangkah tegak tanpa dihantui rasa malu. ****








