JATINANGOR – Di tengah arus modernisasi yang kian deras mengikis jati diri generasi muda, SMPN 4 Jatinangor tampil membawa iklim kesejukan.
Meski tidak memiliki jumlah siswa yang masif, sekolah ini membuktikan bahwa kuantitas bukanlah batu sandungan untuk mencetak generasi yang berkualitas.
Di bawah kepemimpinan yang visioner, sekolah ini terus melangkah pasti dalam membangun siswa-siswi yang mandiri, tahu diri, dan senantiasa teguh memegang akar budaya Sunda.
Komitmen bernuansa kultural ini langsung terasa begitu menapakkan kaki di lingkungan sekolah. Di depan ruang-ruang kelas terpampang untaian literasi berupa pepatah berbahasa Sunda.
Langkah visual ini bukan sekadar pajangan estetis, melainkan sebuah ikhtiar batiniah dari pihak sekolah untuk menyuntikkan nilai-nilai luhur kasundaan ke dalam denyut nadi perilaku sehari-hari para siswa.
Langkah nyata pelestarian budaya ini tentu tidak lahir dari ruang hampa. Di balik keteguhan karakter SMPN 4 Jatinangor, ada sosok pemimpin yang menjadi motor penggeraknya: Dr. Hj. Cucu Suhartini, M.Hum.
Sebagai seorang kepala sekolah, beliau bukanlah akademisi biasa. Dr. Cucu merupakan seorang pendalami sastra Sunda buhun, khususnya seni wawacan—sebuah karya sastra epik tradisional yang kaya akan refleksi dan filosofi mendalam tentang kehidupan.
Sifat nyunda yang kental ini selalu beliau bawa dalam berbagai kesempatan. Saat memimpin acara seremonial maupun ketika bertatap muka dengan orang tua siswa, untaian bahasa Sunda yang halus dan santun selalu mengalir dari ucapannya.
Hal ini memancarkan pesona seorang pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sangat menjunjung tinggi adab dan tata krama kasundaan.
Baca Juga:
Sukseskan Gerakan ‘EMAS PKK’, BSI Talaga Majalengka Jaring 648 Kg Sampah Anorganik dalam Sehari
Saga Transfer Mariano Peralta: Strategi Senyap Persija atau Tikungan Tajam Rival?
Sanksi Berat Menanti Perusahaan Pelaku Pencemaran Udara di Indonesia
Karakter nyunda bukan sekadar teori di atas podium. Dalam sebuah momen bersahaja, Sang Kepala Sekolah tertangkap tengah membersihkan lantai sekolah dengan tangannya sendiri.
Sebuah pemandangan yang merefleksikan kerendahan hati (asor) dan jiwa gotong royong—inti sari dari filosofi hidup masyarakat Sunda.
Melalui keselarasan antara literasi budaya, keteladanan pemimpin, dan semangat kemandirian, SMPN 4 Jatinangor sedang merajut masa depan.
Mereka membuktikan bahwa menjadi modern tidak harus melupakan asal-usul, dan tumbuh menjadi pintar tidak boleh kehilangan santun.
Baca Juga:
Bukti Cinta Ekstrem Bobotoh: Rajah Logo Persib Bintang Lima dan Nama Wa Haji Umuh di Dada
Jabar Usulkan 16 Karya Budaya pada Termin Pertama Sidang WBTb Indonesia 2026
Di sekolah ini, karakter anak bangsa sedang ditempa untuk menjadi pribadi yang mandiri, tahu diri, dan tetap bangga menjadi manusia Sunda. (kang tatang)







