SUMEDANG – Mak Enong (90) Warga Desa Ciptasari Kecamatan Pamulihan, salah seorang alumni Sekolah Gadis yang berada di Tanjungsari.
Pada usia 6 tahunan, Mak Enong kala itu tinggal bersama orangtuanya di Dusun Jelekong Desa Margaluyu Kecamatan Tanjungsari.
Jarak dari tempat tinggalnya ke sekolah sekitar 4 km ditempuh dengan berjalan kaki. Seringkali pergi sekolah, ceritanya, terhambat dentuman bom.
Sepertinya, Mak Enong satu-satunya alumni Sekolah Gadis yang masih hidup, meskipun kondisinya sekarang nyaris tidak ingat siapa-siapa lagi.
Sekolah Gadis awalnya Disebut Sekolah Pawasteri
Di Tanjungsari, pada masa penjajahan Belanda, terdapat sekolah yang bernama Sekolah Gadis, yang sekarang dikenal sebagai SD Negeri Tanjungsari I.
Sekolah ini awalnya bernama Sekolah Pawasteri, yang didirikan pada tahun 1922 dan dikelola oleh pihak Belanda.
Kemudian, sekolah ini berganti nama menjadi Sekolah Gadis, dan pada tahun 1947, namanya berubah lagi menjadi Sekolah Dasar hingga sekarang.
Jadi, Sekolah Gadis di Tanjungsari adalah cikal bakal dari SD Negeri Tanjungsari I yang ada saat ini.
Baca Juga:
Dorong UMKM Go Digital, Bupati Sumedang Diganjar Apresiasi Konektivitas Digital 2026
AutoFlight Sukses Lakukan Pengiriman Teh dengan eVTOL Kelas 2 Ton Pertama di Tiongkok
Sekolah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah kolonial Belanda dalam menyediakan pendidikan untuk anak-anak perempuan warga pribumi.
Meskipun, pada waktu berdirinya, sekolah ini dikhususkan bagi anak-anak keluarga Belanda atau pribumi yang ningrat. ( Tatang Tarmedi ) ***








