Berpuasa Bisa Membunuh Kesombongan Diri Terhindar dari Kehancuran Hidup

- Pewarta

Jumat, 5 April 2024 - 03:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cahaya ramadhan ternyata banyak hikmahnya bagi orang yang menjalankannya, diantaranya bisa membunuh kesombongan (foto diambil dari Kompas.com)

Cahaya ramadhan ternyata banyak hikmahnya bagi orang yang menjalankannya, diantaranya bisa membunuh kesombongan (foto diambil dari Kompas.com)

HARIANSUMEDANG.COM -Dalam sejarah Islam tercatat nama-nama orang yang paling menganggap dirinya lebih dari orang lain.

Kesombongan mereka itu, akhirnya menganggap dirinya Tuhan yang berkuasa di bumi.

Kerajaan Mesir Purba, diantaranya, memberikan kontribusi besar dalam melahirkan orang-orang congkak seperti itu.

Siapa tak kenal kisah Raja Firaun, Qorun dan Haman. Tiga serangkai ini, dianggap orang paling sombong  sepanjang sejarah Islam.

Raja Fir’aun sombong karena merasa dirinya punya kekuasaan

Kerajaan Mesir kala itu memiliki luas wilayah hampir sepadan dengan setengahnya benua Eropa.

Merasa diri punya kekuasaan di wilayah yang maha luas,  Firaun  akhirnya lupa diri sombong dan serakah.

Haman, sombong, karena merasa diri punya kepintaran.

Bangunan piramida yang bercecer di wilayah Mesir, itu hasil dari arsitektur Haman.

Sedangkan Qorun sombong, karena merasa diri punya kekayaan.

Bahkan, sampai sekarang masih banyak orang berburu harta karun.

Sebenarnya satu strategi bagus bagi Raja Fir’aun menyatukan dua sosok ini dalam suatu pemerintahan.

Setidaknya, Fir’aun sendiri punya pengaruh dan kekuasaan.

Lalu, ia merekrut Haman yang genius dan memiliki kepintaran diangkat sebagai Perdana Menteri.

Qorun yang kaya raya diangkat jadi Bendahara kerajaan.

Bila ketiganya memiliki kesholehan hati dan jauh dari rasa takabur, niscaya Mesir akan dari dahulu menjadi maju.

Mereka diberi kelebihan oleh Tuhan, sebagai ujian. Apakah bisa memanfaatkan kelebihan itu untuk hal positif atau sebaliiknya.

Namun, ternyata, kelebihan yang diberikan Tuhan itu menjadikan dirinya sombong dan takabur.

Akhirnya, sejarah mencatat, Fir’aun ditenggelamkan di Laut Merah. Qorun terkubur dalam bumi.

Ini satu akhir hidup yang menjadi dosa bagi diri yang congkak kepada Tuhan.

Bila Fir’aun  Haman dan Qorun sombong dan congkak di hadapan Alloh, memang sedikit ada pantasnya.

Karena  ketiganya memiliki kekuasaan dan pengaruh, punya kepintaran maha lebih serta punya kekayaan melimpah ruah.

Sedangkan bila ada kesombongan pada diri manusia jaman sekarang,   atas dasar apa alasan dari kesombongannya itu ?

Nah, sahabat hariansumedang.com, dengan berpuasa yang benar, Insya Alloh bakal membunuh kesombongan dalam diri kita.

Dengan menipisnya kesombongan dalam diri, Alloh SWT akan mendekati kita dan akhirnya memberi ni”mat yang tidak terhingga.

(Tatang Tarmedi) ***

Berita Terkait

Mengetuk Pintu SDN Tegalendah: Menemukan Rumah Kedua di Balik Perbukitan Rancakalong
Dedikasi Tanpa Batas Forum Peduli Gunung Geulis Jatinangor demi Warisan Anak Cucu
Menakar Jiwa dalam Berita Opini, Ketika Fakta Menemukan Rasa
H. Edeng Sutarya:  Figur ‘Orang Tua’ Pendidikan Sumedang di Akhir Pengabdian
Dari Asongan ke Kursi Kepala Sekolah: Kisah Inspiratif H. Apit Mengubah Garis Takdir di Jatinunggal
Mengajar dengan Hati, Memimpin dengan Seni: Kiprah Transformatif Dr. Cucu Suhartini di SMPN 4 Jatinangor
Konsumsi Kopi dan Risiko Diabetes: Manfaat, Mitos, dan Aturan Amannya
Waspada Predator Siber Intai Anak-Anak Lewat Game Online

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 05:47 WIB

Mengetuk Pintu SDN Tegalendah: Menemukan Rumah Kedua di Balik Perbukitan Rancakalong

Minggu, 7 Juni 2026 - 08:29 WIB

Dedikasi Tanpa Batas Forum Peduli Gunung Geulis Jatinangor demi Warisan Anak Cucu

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:56 WIB

Menakar Jiwa dalam Berita Opini, Ketika Fakta Menemukan Rasa

Kamis, 4 Juni 2026 - 06:46 WIB

H. Edeng Sutarya:  Figur ‘Orang Tua’ Pendidikan Sumedang di Akhir Pengabdian

Rabu, 3 Juni 2026 - 03:48 WIB

Dari Asongan ke Kursi Kepala Sekolah: Kisah Inspiratif H. Apit Mengubah Garis Takdir di Jatinunggal

Berita Terbaru