HARIANSUMEDANG.COM — Warkat berikut mungkin bisa dibutuhkan bagi para pasangan suami istri ( pasutri ) untuk menambah pengetahuan tentang hubungan dengan pasangan.
Jarang sekali sepasang suami istri langsung siap berhubungan badan, tanpa mempersiapkan tubuhnya terlebih dahulu.
Telah terbukti bahwa khususnya istri membutuhkan rangsangan yang tepat sebelum berhubungan, sehingga memungkinkan terjadinya hubungan intim.
Mempersiapkan tubuh dengan baik untuk melakukan hubungan intim, terutama anda perlu mencuri gairah, terutama melalui belaian terampil pada zona sensitif seksual.
Ini adalah tempat sensitif di mana terdapat banyak ujung saraf, ketika anda menyentuhnya menimbulkan kesenangan tersendiri bagi pasangan.
Yang terbaik adalah memulai pemanasan dengan membelai zona sensitif seksual sekunder, kemudian melanjutkan ke zona sensitif seksual utama, dan baru setelah itu hubungan seksual penuh dapat dilakukan.
Zona sensitif seksual sekunder: payudara dan puting, skrotum, daerah anus, paha bagian dalam, bokong, leher dan tengkuk, mulut dan lidah. Adapun Zona sensitif seksual primer:
penis, vagina, klitoris
Sebagai satu saran bagi para pasutri, jangan terlalu berlebihan dalam berhubungan seks dengan pasangan, ada kejadian membahayakan.
Tentu saja, “patah” merupakan sebuah pepatah, karena tidak ada tulang di penis yang bisa patah, namun karena kelakuan seks berlebihan, penis bisa rusak parah – mirip dengan patah tulang.
Baca Juga:
JPU Tolak Seluruh Pledoi Nadiem Makarim dalam Sidang Replik Kasus Korupsi Chromebook
Inisiatif Siswa, Acara Pelepasan SMPN 1 Jatinangor Berlangsung Khidmat Tanpa Pungutan Biaya
Optimalkan Potensi Agraris, UPTD Pertanian Wilayah Tomo Terus Kawal Ketahanan Pangan Sumedang
Kecelakaan jenis ini terjadi ketika penis tiba-tiba bengkok dengan sudut yang berbahaya, misalnya saat emosi menguasai kekasih yang terlalu bernafsu.
Ilmuwan Brazil telah menemukan bahwa sebagian besar patah tulang penis terjadi saat bercinta cowgirl.
Selama 12 tahun, di wilayah yang diteliti, terdapat lebih dari empat puluh kasus gangguan pada tunika albuginea penis, yaitu. “patah” (bila robek, suara retakan yang khas bahkan dapat terdengar!) .
Hampir setengah dari responden mengakui bahwa cedera tersebut terjadi ketika pasangan mereka mengambil alih dan menungganginya…
Baca Juga:
MAXHUB Bertransformasi dari Peserta Menjadi Pemimpin, Ajukan Dua Standar Internasional IEC yang Baru
SNEC 2026 | EVE Energy Raih Pesanan Lebih dari 67 GWh, Perkuat Posisi di Industri Penyimpanan Energi
Pertahankan Komitmen Akuntabilitas, Kabupaten Majalengka Raih Opini WTP 13 Kali Berturut-turut
Posisi kedua yang paling umum menyebabkan cedera ternyata berada di luar “doggy style”.
Mungkin hal ini disebabkan oleh fakta bahwa di kedua posisi tersebut, wanita memiliki banyak kebebasan untuk menggerakkan dan memanipulasi pinggulnya.
Para pasutri perlu pula mengetahui, bahwa kontrasepsi itu sudah ada sejak jaman dahulu. Benarkah ?
Tentu saja, metode yang dikenal pada saat itu sangat berbeda dengan metode saat ini, dan seringkali tidak efektif atau bahkan berbahaya.
Salah satu metode kontrasepsi yang paling umum pada jaman itu adalah penggunaan zat beracun sebelum atau sesudah hubungan seksual.
Beberapa orang memberikan sifat spermisida pada kotoran hewan (misalnya buaya) yang dioleskan pada kulit.
Baca Juga:
AGIBOT Gelar APC 2026 di Indonesia, Percepat Implementasi AI Berwujud Fisik di Pasar Lokal
Pelatih Mozambik Puji Timnas Indonesia, ” Ranking FIFA Hanyalah Ilusi ” Katanya
Negara-negara lain mengonsumsi racun seperti merkuri, yang seringkali tidak hanya mencegah pembuahan, tetapi bahkan menyebabkan berbagai penyakit berbahaya.
Filsuf Yunani kuno menganjurkan wanita untuk melompat – lompat setelah berhubungan, sehingga sperma tidak sempat mencapai rahim.
“Cendekiawan” lain menganjurkan wanita untuk menahan napas saat berhubungan seks, yang bahkan itu dapat menyebabkan hipoksia…
Beberapa wanita di Abad Pertengahan memproduksi sisipan vagina mereka sendiri. Cakram buatan terbuat dari spons, dimaksudkan untuk memberikan penghalang fisik terhadap air mani.
“Metode” terakhir yang diketahui adalah penggunaan testis hewan, yang dianggap memiliki sifat anti-fertilisasi.
Beberapa wanita memakai jimat yang terbuat dari buah zakar kering di lehernya, misalnya buah zakar banteng,
edangkan pria meminum minuman dengan buah zakar yang berbentuk bubuk, misalnya buah zakar berang-berang.
Kontrasepsi jaman dulu itu selain berisiko pula bila dilakukan dengan serampangan bisa menyebabkan kematian. ( Tatang Tarmedi / sumber dari seksnews.pi ) ***















