Cetak Rekor, Produksi Beras Indonesia 2026 Melonjak di Tengah Kontraksi Global

- Pewarta

Senin, 22 Juni 2026 - 15:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

JAKARTA — Di tengah tren penurunan produksi pangan global dan menipisnya cadangan dunia, sektor pertanian Indonesia mencatatkan performa gemilang. Produksi beras nasional pada tahun 2026 berhasil menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, sekaligus memposisikan Indonesia sebagai salah satu titik terang dalam peta pangan global.

“Ketika dunia memanen lebih sedikit, Indonesia justru memanen lebih banyak,” ujar Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam keterangan resminya, Senin (22/6/2026).

Berdasarkan laporan terbaru dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) per 13 Mei 2026, produksi beras dunia untuk musim 2026/2027 diproyeksikan turun menjadi 552,4 juta ton. Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat bahwa penurunan ini merupakan koreksi pertama setelah dunia mengalami rekor panen dalam dua musim berturut-turut.

Namun, FAO justru memproyeksikan produksi beras Indonesia melonjak signifikan menjadi 38,6 juta ton setara beras giling pada musim 2026/2027. Angka ini naik tajam dibanding capaian musim 2024/2025 yang sebesar 34,0 juta ton.

Dengan lonjakan tersebut, Indonesia kini mengukuhkan posisinya sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia, berada tepat di bawah India, China, dan Bangladesh.

Raksasa Pangan Dunia Berguguran

Kontraksi produksi pangan tahun ini terjadi secara masif di berbagai negara produsen utama akibat tantangan iklim dan tingginya biaya produksi. Laporan FAO menunjukkan penurunan tajam di beberapa negara:

Negara Produsen Penurunan Produksi Catatan
Amerika Serikat Panen terendah dalam 4 tahun terakhir
Brasil Terdampak volatilitas cuaca
Thailand Turun menjadi 21,8 juta ton
Kamboja Mengganggu pasokan regional

Secara agregat, FAO memperkirakan hampir seluruh kawasan di dunia mencatatkan penurunan hasil panen, dengan pengecualian di Benua Afrika.

Ada dua faktor utama yang memicu anjloknya pasokan global ini. Pertama, ketidakpastian iklim yang dipicu oleh prediksi kembalinya badai kering El Niño. Kedua, merosotnya margin keuntungan (profitabilitas) petani akibat harga jual yang melemah, yang terjadi bersamaan dengan melonjaknya biaya input pertanian seperti harga energi dan pupuk. Kondisi ini memaksa sebagian petani di Asia Tenggara menunda masa tanam mereka.

Stok Global Menyusut, Peluang Ekspor Terbuka

Dampak dari penurunan produksi ini langsung menggerus cadangan beras dunia. FAO memprediksi stok akhir global 2026/2027 akan menyusut menjadi 213,8 juta ton dari musim sebelumnya yang sebesar 219,7 juta ton.

Volume perdagangan beras internasional juga diperkirakan mengempis ke angka 59,8 juta ton, menyusul langkah proteksionisme yang diambil oleh sejumlah negara importir untuk mengamankan pasar domestik mereka.

Kendati demikian, Kementan optimistis situasi pelik yang dihadapi pasar global ini justru membuka peluang strategis dan ekonomis bagi Indonesia.

Di saat pasokan dunia mengetat, beberapa negara tetangga di kawasan Asia Tenggara diproyeksikan akan menaikkan volume impor mereka. Filipina—salah satu importir beras terbesar dunia yang berbatasan di utara Indonesia—serta Malaysia dipastikan harus menambah pembelian luar negeri mereka demi menutupi defisit produksi domestik.

Posisi Indonesia yang surplus di tengah kelangkaan ini menempatkan ketahanan pangan nasional dalam posisi yang sangat kuat sekaligus membuka peluang penetrasi pasar regional yang menguntungkan.

(tatang tarmedi)

Berita Terkait

BGN Buka Opsi Coret Siswa SMA dari Daftar Penerima Makan Bergizi Gratis pada 2027
Pusaran Korupsi Badan Gizi Nasional: Menanti Babak Baru Setelah Pengajuan Justice Collaborator
JPU Tolak Seluruh Pledoi Nadiem Makarim dalam Sidang Replik Kasus Korupsi Chromebook
Muncul Perdana usai Didapuk Jadi Kepala BGN, Nanik Deyang Ungkap Alasan Militer Urus MBG
Hari Pertama Penyaluran, TASPEN Rampungkan 99% Pembayaran Gaji ke-13 Pensiunan ASN
Pemerintah Perbarui Data Penerima Bansos Juni 2026, Fokuskan Penyaluran untuk Desil 1-4
Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN)
Maksimalkan Media Sosial, Menkum Supratman Andi Agtas Dorong Respons Cepat Pelayanan Publik dan Transparansi Karier ASN

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:33 WIB

Cetak Rekor, Produksi Beras Indonesia 2026 Melonjak di Tengah Kontraksi Global

Selasa, 16 Juni 2026 - 09:05 WIB

BGN Buka Opsi Coret Siswa SMA dari Daftar Penerima Makan Bergizi Gratis pada 2027

Kamis, 11 Juni 2026 - 10:07 WIB

Pusaran Korupsi Badan Gizi Nasional: Menanti Babak Baru Setelah Pengajuan Justice Collaborator

Rabu, 10 Juni 2026 - 10:51 WIB

JPU Tolak Seluruh Pledoi Nadiem Makarim dalam Sidang Replik Kasus Korupsi Chromebook

Jumat, 5 Juni 2026 - 03:11 WIB

Muncul Perdana usai Didapuk Jadi Kepala BGN, Nanik Deyang Ungkap Alasan Militer Urus MBG

Berita Terbaru