HARIANSUMEDANG.COM – Bupati Subang H. Reynaldy Putra Andita BR, S.IP. meluncurkan Gerakan Ngabret Nyaah Ka Indung Jumat (11/04), di Kantor Desa Ciater.
Acara tersebut dihadiri Wakil Bupati, Sekda, para Asisten Daerah, Kepala BP4D, Kepala DP2KBP3A, Kabag Kesra, Camat Ciater, perwakilan TP2KB, DPRD, BUMD, dan perwakilan OPD lainnya.
Sementara itu, para Kepala UPTD, Kepala Desa, dan seluruh Camat se-Kabupaten Subang mengikuti acara tersebut secara virtual.
Asisten Daerah I, Rahmat Effendi dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Gerakan Nyaah Ka Indung yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Program yang dijadwalkan mulai berjalan pada akhir April 2025 ini mewajibkan setiap ASN dan pegawai BUMD di Kabupaten Subang untuk memiliki satu lansia binaan.
Sasaran dari program ini adalah lansia berusia 60 tahun ke atas, khususnya kaum ibu yang hidup dalam keterbatasan dan memerlukan perhatian, perlindungan, serta penghormatan yang layak.
Dalam sambutannya, Bupati Subang yang akrab disapa Kang Rey menyatakan bahwa dirinya memiliki pandangan yang sejalan dengan Gubernur Jawa Barat terkait pentingnya kepedulian terhadap lansia.
“Program ini merupakan suatu bentuk kepekaan bagi para ASN yang telah mengabdikan dirinya, untuk lebih peka terhadap kondisi para lansia,” tegasnya.
Kang Rey juga menyampaikan bahwa Ngabret Nyaah Ka Indung akan dijadikan salah satu tolak ukur kinerja ASN di Kabupaten Subang.
Baca Juga:
SMPN 2 Tanjungsari Lepas 356 Siswa, Cetak 10 Lulusan Terbaik dan 3 Peraih TKA Terbaik Jabar
Financial Resilience Index Sun Life Asia: Keamanan Finansial Menurun Akibat Tekanan Biaya Hidup
Lebih lanjut ia menekankan bahwa program ini tidak hanya berlaku bagi ASN, namun juga diwajibkan bagi pegawai BUMD sebagai bentuk ikhtiar bersama membangun hubungan emosional antara pemerintah dan masyarakat, khususnya para lansia.
Menutup sambutannya, Kang Rey menyampaikan instruksi tegas kepada seluruh Camat dan Kepala Desa di Kabupaten Subang untuk memastikan tidak ada lagi lansia yang hidup dalam kondisi memprihatinkan.
“Saya tidak ingin lagi mendengar ada lansia yang rumahnya hancur, sulit berobat, atau menjalani usia senja dengan beban berat,” tegasnya. (Tatang Tarmedi) ***







