Oleh: Titin Suryati Sukmadewi, S.Si, M.Pd, Kepala SMA Negeri 2 Cimalaka Sumedang.
HARIANSUMEDANG.COM — SMA Negeri 2 Cimalaka di Kabupaten Sumedang ditetapkan sebagai Sekolah Penggerak, terus berupaya melakukan tranformasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Salah satu fokus perhatian SMA Negeri 2 Cimalaka yang merupakan bagian dari indikator pada Rapor Pendidikan adalah Kualitas Pembelajaran. Salah satunya, meningkatkan kompetensi guru.
Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru, diantaranya pelatihan/Workshop/In House Training, mentoring, coaching, dan melalui Komunitas Belajar.
Namun upaya dengan pelatihan, bila tidak diikuti pendampingan lanjutan, tidak sedikit guru kembali ke gaya lamanya mengajar sehingga transformasi pembelajaran tidak tercapai dengan optimal.
Upaya lainnya, berupa supervisi kelas, mentoring maupun coaching serta optimalisasi Komunitas Belajar.
Komunitas Belajar adalah sekelompok pendidik dan tenaga kependidikan dalam satu sekolah maupun antar sekolah yang belajar bersama-sama dan berkolaborasi secara rutin.
Tujuannya jelas dan terukur untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga berdampak pada hasil belajar peserta didik.
Selain untuk meningkatkan kompetensi pendidik, diharapkan komunitas belajar pun dapat membangun semangat kolaborasi, budaya belajar bersama dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Sertijab Kepala Desa Cipelang Kecamatan Ujungjaya Harapan Baru untuk Desa yang Lebih Maju
Kementerian Luar Negeri: 32 WNI Berhasil Dievakuasi dari Iran, Sebagian Kini Sudah Tiba di Indonesia
Seperti dikatakan oleh Fullan (1993), ”You cannot have students as continues learners and effective collaborators, without educators having the same characteristics”.
Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa mustahil untuk membentuk siswa yang memiliki budaya belajar sepanjang hayat dan kolaborasi, jika selaku pendidik tidak memiliki budaya tersebut.
Nyata, begitu penting kegiatan dalam Komunitas Belajar dari aspek tujuan yaitu peningkatan kualitas pembelajaran yang bermuara pada akselerasi hasil belajar peserta didik maupun aspek budayanya.
Kegiatan Kombel di SMA Negeri 2 Cimalaka dilakukan sebagai berikut.
Baca Juga:
Jatnika Pria Utama : Wujud Kepala Sekolah yang Berkarya, Menginspirasi Melalui Seni
Jika Perang Tak Berhenti 20 Hari Lagi Harga BBM RI Diprediksi Naik
Pertama, dimulai dari membentuk tim kecil untuk membuat jadwal dan pembahasan konten. Konten prioritas memperhatikan hasil refleksi supervisi akademik, akar masalah dari rapor pendidikan.
Kedua, hal positif yang ditemukan saat supervisi akademik, baik perencanaan, proses maupun evaluasi pembelajaran, menjadi catatan untuk kegiatan sharing praktik baik.
Hal ini penting untuk meminimalisir ketimpangan kompetensi antar pendidik sehingga peserta didik memperoleh kualitas pengalaman belajar yang sama.
Sharing praktik baik ini pun merupakan salah satu wujud apresiasi terhadap pendidik yang menerapkan berbagai inovasi dalam pembelajaran.
Ketiga, pembahasan materi ada yang berbasis rumpun mata pelajaran, ada pula yang sama untuk semua mata pelajaran. Hal ini harus terjadwal dengan baik oleh tim Kombel.
Keempat, sediakan sarana untuk kegiatan Kombel yaitu ruangan, ATK, atau media pembelajaran sesuai dengan jenis kegiatan yang dilakukan.
Baca Juga:
Kelima, mendokumentasikan dan membuat catatan refleksi dari peserta Kombel untuk perbaikan kegiatan Kombel berikutnya maupun kegiatan lainnya berupa Rencana Tindak Lanjut (RTL).
Walaupun pada awalnya kegiatan ini menghadapi kendala dan tantangan, namun akhirnya tumbuh semangat dan budaya positif para pendidik yaitu budaya belajar, budaya kolaborasi dan budaya refleksi.
Peran Pengawas Pembina pun sangat penting dalam melaksanakan pendampingan kegiatan Kombel di SMAN 2 Cimalaka. Semoga melalui kegiatan Kombel dapat berdampak pada hasil belajar.***












