JATINANGOR – SMA Plus Al-Aqsha Jatinangor, sekolah swasta yang menerapkan kurikulum campuran, memadukan kurikulum umum dan kurikulum khas pondok pesantren.
” Bahkan, prosentase kurikulum pesantren lebih banyak daripada kurikulum nasionalnya, ” timpal Apip Hadi Susanto, Kepala SMA Plus Al-Aqsha, Kamis (6/11/2025).
Apip bisa memastikan kurikulum pesantren lebih banyak, karena para santri malamnya digembleng ilmu keagamaan, pengajian dan niai-nilai pesantren agar santri memiliki kedalaman spiritual.
Menurut Apip, di luar sana prilaku dan tingkah laku anak menjadi riskan, apalagi di tengah kemajuan teknologi dan budaya barat yang telah masuk ke ranah kehidupan.
Dalam situasi begitu, sambung Apip, orang tua berpikir bagaimana bisa aman dari gangguan-gangguan negatif yang berdampak pada resistensi moral anak.
“Nah, di SMA Plus Al-Aqsha, siswa tidak ada yang diluar, meskipun rumahnya dekat, tetap nginap di sini. Maksudnya, kalau di dalam itu relatif aman, tidak akan terkontaminasi, ” terang Apip.
Apip bersyukur lembaga pendidikan Plus Al-Aqsha telah dipercaya oleh masyarakat, tidak saja dari Sumedang, dari luar daerah pun ada, bahkan Apip menyebut santri Al -Aqsha berasal dari 27 kabupaten / kota di Jawa Barat. *** Tatang Tarmedi








