SUMEDANG – Generasi anak muda nasa kini, mungkin akan mengernyitkan dahi bila mendengar cerita-cerita masa lalu, di saat Hari Raya Idul Fitri ada tradisi “mawakeun” artinya mengirim nasi dan lauk pauk kepada keluarga yang jauh.
Hingga di suatu tempat di Kecamatan Sukasari, di saat Hari Raya Idul Fitri, ibu-ibu yang membawa “rantang kantet” berisi nasi dan lauk pauk itu membentuk antayan panjang di jalan desa.
Momen unik itu, kadang suka disebut ” Pawai Rantang ” dan menjadi pemandangan yang indah penuh sukacita. Dimana ibu-ibu saling bersalaman di jalan desa dengan latar pemandangan pesawahan yang terhampar luas.
Rantang Kantet itu, berisi empat atau bahkan lima rantang yang ditaruh secara bersusun. Isi rantangnya, berisi nasi pulen, daging ayam, bihun, tahu dan kerupuk udang.
Rantang Kantet itu sendiri sekarang nyaris tiada, seiring dengan tradisi “mawakeun” yang hilang ditelan waktu. Masyarakat di pedesaan nyaris tidak terlihat lagi banyak yang bersalaman di jalan – jalan.
Alhasil, tradisi-tradisi yang pernah disebut indah pada jamannya, satu-satu banyak yang telah gugur. Termasuk tradisi “mawakeun” itu dan bersalaman satu sama lain di jalan-jalan.
Tidak hanya di Idul Fitri, tradisi-tradisi di sekolahan pula yang telah lama menjadi satu momen keindahan di masyarakat : seperti samenan, paturay tineung dan lainnya perlahan raib. ( Tatang Tarmedi )








